Search for collections on Publications

PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTEK KEWARISAN DI DESA PUTATSARI KECAMATAN GROBOGAN KABUPATEN GROBOGAN

MUHAMMAD YASIN, 131410000278 (2018) PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTEK KEWARISAN DI DESA PUTATSARI KECAMATAN GROBOGAN KABUPATEN GROBOGAN. Skripsi thesis, UNISNU JEPARA.

[thumbnail of 131410000278_COVER.pdf]
Preview
Text
131410000278_COVER.pdf - Published Version

Download (2MB) | Preview
[thumbnail of 131410000278_BAB I.pdf]
Preview
Text
131410000278_BAB I.pdf - Published Version

Download (176kB) | Preview
[thumbnail of 131410000278_BAB II.pdf]
Preview
Text
131410000278_BAB II.pdf - Published Version

Download (234kB) | Preview
[thumbnail of 131410000278_BAB III.pdf]
Preview
Text
131410000278_BAB III.pdf - Published Version

Download (142kB) | Preview
[thumbnail of 131410000278_BAB IV.pdf]
Preview
Text
131410000278_BAB IV.pdf - Published Version

Download (197kB) | Preview
[thumbnail of 131410000278_BAB V.pdf]
Preview
Text
131410000278_BAB V.pdf - Published Version

Download (104kB) | Preview

Abstract

Jenis penelitian ini tergolong penelitian lapangan (field research) kualitatif dengan pendekatan yang bersifat yuridis sosiologis yang bermaksud guna memahami prinsip-prinsip umum yang mendasari perwujudan satuan gejala-gejala sosial budaya yang menggunakan kebudayaan dari masyarakat Desa Putasari guna memperoleh gambaran mengenai pola-pola yang berlaku dan sumber data penelitian ini adalah masyarakat desa Putatsari tokoh masyarakat desa putatsari dan lain lain, kemudian data-data yang di peroleh dianalisis dengan menggunakan menggunakan metode deskriptif analitis.
Hasil dari penelitan menunjukkan bahwa praktik pembagian waris di Desa Putasari dilakukan berdasarkan bahwa anak tertua mendapatkan bagian harta warisan lebih banyak dari pada anak lainnya, asumsinya pembagian harta waris yang melebihkan bagiannya kepada anak tertua dianggap sudah adil karena tanggung jawab anak tertua dianggap lebih berat dari pada anak lainnya, di dalam hukum islam ketentuan pembagian dengan laki-laki dan perempuan adalah 2:1 jika mereka bersama-sama mewaris dari pewarisnya, kemudian harta di bagikan pada dua waktu, sebagian masyarakat ada yang menbagi harta waris ketika pewaris masih hidup dan ketika pewaris sudah meninggal dunia, dapat dikatakan bahwa praktik pembagian waris yang dilakukan masyakat desa putatsari bertentangan dengan hukum kewarisan Islam, akan tetapi tidak serta merta mengatakan bahwa praktik kewarisan di desa putatsari dilarang dalam islam, karena pada dasarnya kewarisan di Desa Putatsari didasari dari adat yang turun temurun dari pendahulunya serta proses pembagian di laksanakan dengan jalan musyawarah untuk mencapai kesepakatan bersama, di dalam hukum Islam, adat (urf) sendiri di jadikan sebagi dasar penetapan hukum untuk menjawab segala persoalan di dalam masyarakat, adat (urf) yang dimaksud pada masyarakat Desa Putasari yaitu tergolong dalam urf shahih yaitu tidak menghalalkan sesuatu yang dilarang dan tidak pula membatalkan sesuatu yang wajib. jadi, praktik kewarisan yang terjadi di desa putasari dalam hukum islam diperbolehkan karena urf yang dilakukan masyarakat desa puatsari termasuk dalam urf shahih.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: Pembimbing I : M. Husni Arafat,Lc.,M.S.I Pembimbing II : Nur Kholis, S.H.I.,M.S.I
Uncontrolled Keywords: Harta Waris, Bagian Anak Tertua, Desa Putatsari
Subjects: 200 Agama > ISLAM > 2X4 Fikih (Fiqih, Fiqh), Hukum Islam > 2X4.4 Hukum Waris Islam, Faraid
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Hukum Keluarga Islam
Depositing User: Admin Perpustakaan Unisnu
Date Deposited: 17 Feb 2022 03:18
Last Modified: 17 Feb 2022 03:18
URI: https://eprints.unisnu.ac.id/id/eprint/2383

Actions (login required)

View Item
View Item