ANALISIS SEMIOTIKA NOVEL ‘DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN’ KARYA TERE LIYE, DENGAN AL-QUR’AN SURAT AL-RA’D AYAT 11 DAN SURAT AL-AN’AM AYAT 59

SA’IDAH, 312034 (2017) ANALISIS SEMIOTIKA NOVEL ‘DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN’ KARYA TERE LIYE, DENGAN AL-QUR’AN SURAT AL-RA’D AYAT 11 DAN SURAT AL-AN’AM AYAT 59. Skripsi thesis, UNISNU JEPARA.

[img]
Preview
Text
312034_COVER.pdf - Published Version

Download (432kB) | Preview
[img]
Preview
Text
312034_BAB I.pdf - Published Version

Download (301kB) | Preview
[img]
Preview
Text
312034_BAB II.pdf - Published Version

Download (346kB) | Preview
[img]
Preview
Text
312034_BAB III.pdf - Published Version

Download (229kB) | Preview
[img]
Preview
Text
312034_BAB IV.pdf - Published Version

Download (475kB) | Preview
[img]
Preview
Text
312034_BAB V.pdf - Published Version

Download (149kB) | Preview
[img]
Preview
Text
312034_DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (191kB) | Preview

Abstract

Sebuah karya sastra dilahirkan tidak lepas dari faktor pengalaman, pendidikan, dan pergaulan penulisnya. Novel adalah bagian dari sastra yang mengandung dimensi ruang dan waktu. Semua unsur yang ada di dalam novel memberikan kemungkinan adanya tanda-tanda yang berhubungan tentang ilmu agama dan pelajaran kehidupan lainnya. tidak terkecuali al-Qur’an yang merupakan pedoman hidup bagi umat islam.
Tere Liye, salah satu penulis terkenal di Indonesia yang buku-bukunya hampir keseluruhan best seller, pada novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin memberikan penegasan bahwa kehidupan tidak lepas dari masalah ikhtiar dan penerimaan. Hal ini pun senada dengan pesan yang dibawa al-Qur’an surat al-Rad ayat 11 dan surat al-An’am ayat 59, di mana pada al-Ra’d ayat 11, Allah menjelaskan tentang perubahan nasib yang harus diusahakan manusia, sementara pada al-An’am Allah juga menjelaskan penerimaan atas segala sesuatu yang diusahakan manusia.
Pesan tersebut dapat dipahami dari kalimat judul novel Tere Liye, ‘Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin’. Daun yang Jatuh merupakan metafor dari gerakan kehidupan sementara sementara ‘Tak Pernah Membenci Angin’ disimpulkan sebagai metafor terhadap penerimaan takdir yang sudah digariskan kepada manusia. Antara ikhtiar dan penerimaan, keduanya sepasang keadaan yang saling berkaitan, menguatkan dan tidak bisa dipisahkan.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: Pembimbing I : Abdullah Wahab,S.Sos.I.,M.S.I. Pembimbing II : Mahfudlah Fajrie,S.Sos.I.,M.S.I
Uncontrolled Keywords: Al-An’am, Al-Ra’d, Al-Qur’an, Analisis Semiotika, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Novel, Tere Liye.
Subjects: 300 Ilmu Sosial > 300 Sosiologi dan Antropologi > 302 Interaksi Sosial > 302.2 Komunikasi
800 Kesusastraan > 813 Fiksi Indonesia
Divisions: Fakultas Dakwah dan Komunikasi > Komunikasi dan Penyiaran Islam
Depositing User: Admin Perpustakaan Unisnu
Date Deposited: 21 Feb 2022 02:16
Last Modified: 21 Feb 2022 02:16
URI: http://eprints.unisnu.ac.id/id/eprint/2402

Actions (login required)

View Item View Item